| Ternate |
Ternate sebuah kota yang sangat unik. Pertamakali aku menginjakkan kaki disana sudah merasa kagum dengan keindahannya. Saat akan landing di Bandara Sultan Baabullah terlihat pemandangan yang unik dari atas. Sebuah pulau yang terlihat seperti tumpeng yang dikelilingi air. Setelah semakin dekat untuk landing. Aku semakain heran dengan rumah-rumah yang beratap seng.
| Bandara Baabullah Ternate |
Ternate adalah kota pertama dan terjauh yang saya kunjungi. Dan itu pertama kalinya aku naik pesawat terbang. Tidak pernah aku bayangkan akan berada di kota ini. Dengan perjalanan sejauh ini, yang berbeda waktu 2 jam lebih awal dari biasanya.
Teringat akan sosok seorang teman yang berambut keriting , tinggi dan berkulit gelap. Aku lupa namanya aslinya yang aku ingat kelompok MOSnya ketika SMP yang bernama Baabullah… aneh aja dengan nama itu. Dan sekarang aku baru tau kalau itu nama salah satu Sultan di Ternate. Dan diabadikan namanya di Bandara ini.
Ternate sangat jauh berbeda kondisi alammya dengan Jawa. Selama ini aku selalu berkutat di Jawa khususnya Jawa Timur. Dan Lebih Khusus lagi hanya di Kota Malang dan Madiun. Sehari-hari aku tinggal di Malang setahun sekali mudik Ke Madiun setiap lebaran.
Kota Malang dan Madiun sama-sama di kelilingi daratan. Di Malang sejauh mata memandang di kelilingi pegunungan. Di Madiun juga jauh dari pantai. Tapi di Ternate ketika melihat depan rumah pantai melihat belakang rumah gunung. Ketika naik ke lantai dua rumah terlihat pulau Tidore yang terpisahkan oleh laut. Di Jawa jika ingin keluar kota biasa naik bus atau kereta. Tetapi di Ternate keluar kota harus naik boat atau kapal. Laut seakan-akan jalan raya.
Disini terasa sekali Indonesia yang berupa “Negara Kepulauan”. Satu pulau yang kecil yang memiliki bandara dan pelabuhan. Pulau yangmemiliki keliling kurang dari 50 km, tetapi sangat ramai. Pulau yang terkenal sebagai kerajaan Islam di masa silam. Pulau yang menyimpan sejarah perjuangan para ulama.
Meskipun berupa pulau kecil Ternate memiliki banyak destinasi wisata yang mengagumkan. Wisata alam di gunung dan lautnya. Maupun wisata bangunan sejarah perjuangan melawan penjajah.
Tetapi yang sangat berkesan bagiku berupa wisata pantai dan gunungnya. Saya yang lebih suka dengan wisata alam dan merasakan kebesaran Allah SWT. Di Jawa hampir tidak pernah melihat laut yang begitu dekat. Sebagai anak gunung mata ini seolah-olah dimanjakan dengan pemandangan laut. Tetapi sayang pantai yang indah banyak yang rusak karena reklamasi. Sisa-sisa keindahan itu masih sedikit terlihat di Pantai Taman Nukila. Dibawah terlihat sedikit karang yang berwarna warni dan ikan yang berwarna warni yang berenang dengan lincah. Tetapi sayang pemandangan itu terkotori oleh sampah yang di buang sembarangan dan sisa-sisa pembangunan.
Disini aku menjadi ingin berenang. Sebagai perenang pemula, rasanya ingin menceburkan diri di pantai-pantai ini. Di sore hari ketika cuaca cerah airnya tenang anak-anak maupun orang dewasa banyak yang berenang di sepanjang Pantai Falajawa atau Taman Nukila. Tetapi kondisinya tidak kondusif untuk berenang seorang ‘akhwat’ sehingga suami melarangku untuk berenang meskipun banyak yang berenang disana.
| Pantai Falajawa dipagi hari dengan latar Pelabuhan Kota Ternate |
Sungguh Indah pemandangan lautnya Dari Pelabuhan, Pantai Falajawa, Taman Nukila, Masjid Al Munawar semua berjejer di tepi pantai yang menghadap Pulau Halmahera. Ketika Malam Pemandangan pantai berubah menjadi Pemandangan kapal yang berseliweran menuju pelabuhan atau perahu nelayan yang berangkat ke laut. Ketika melihat ke bawah laut banyak ikan yang keluar pada malam hari mereka seakan-akan bercahaya. Menyenangkan sekali. Dengan di iringi suara deburan ombak.
| Falajawa dimalam hari |
Di pantai Falajawa pada siang hari tidak begitu panas karena banyak pepohonan yang rindang di sekitarnya. Begitu pula di Taman Nukila enak untuk refreshing bersama keluarga. Selain pemandangan lautnya disana juga tersedia play ground tempat bermain untuk anak-anak dengan pepohonan yang rindang. Selain itu juga ada lantai berbatu-batu untuk pijat refleksi. Taman Nukila dekat dengan Mall Jatiland, jika kita tidak suka jalan-jalan di Mall bisa menunggu keluarga yang sedang shopping disini. Karena disini juga nyaman untuk membaca buku.
| taman nukila |
Yang unik lagi ketika akan beli makanan penjual dan pembeli di pisahkan oleh jalan raya. Penjual makanan dan minuman ada di seberang jalan raya. Jadi penjual dan pembeli saling berteriak atau member kode untuk memesan makanan atau minuman dari jauh. Pemandangan itu ada di Taman Nukila di siang hari. Biasanya yang di jual es kacang merah, es pisang ijo atau es buah. Tapi makanan seperti kacang dan jagung rebus juga ada pada sore sampai malam hari.
Berbeda di pantai Falajawa tidak seperti itu penjual berjajar di tepi jalan yang dekat pantai. Jadi lebih enak untuk membeli makanan. Tapi yang di jual juga berbeda dengan di Taman Nukila. Di Pantai Falajawa ketika pagi hari banyak penjual bubur ketan hitam dan kacang hijau. Pada waktu siang sampe malam hari penjual kacang jagung rebus, cilok ikan dan air mineral.
Kami berdua hobi berenang. Untuk melatih pernafasan saat berenang kami biasa jogging. Disini enak juga untuk jogging. Biasanya untuk track jogging di pagi hari selain hari minggu kami suka mengambil rute dari taman Nukila, Masjid Al Munawar, belok ke swering belakang Mall Jatiland. Track joging dengan pemandangan laut. Sungguh pengalaman yang berbeda.
![]() |
| swering dengan back ground Masjid Al Munawar |
Hanya pada malam hari sepanjang Jalan Sultan M. Djabir Sjah setelah pasar sayur banyak pedagang air guraka atau minuman jahe. Pedagang dan pembeli di pisahkan oleh jalan raya sama posisinya seperti di taman Nukila. Kursi dan meja untuk pembeli berjajar di tepi laut. Dengan di payungi langit dan di iringi suara deburan ombak yang membentur bibir tanggul membatas laut. Sungguh romantis suasananya. Dengan pemandangan kapal nelayan yang berangkat ke laut.
Di ujung Jalan Sultan M. Djabir Sjah terdapat Keraton Kesultanan Ternate. Di depan Keraton Kesultanan terdapat Lapangan Salero. Di seberang Lapangan Salero ada sebuah dermaga yang bernama Dodoko Ali. Di sini pada sore hari enak untuk memancing. Biasanya ikan cude banyak berkumpul di sini. Karena Dodoko Ali berupa Teluk kecil tempat nelayan biasanya memarkir perahunya. Meskipun paku papan-papan kayu dermaga ini sudah banyak yang copot dan sebagian papannya hilang, tetapi tetap asyik buat melatih kesabaran kita untuk mendapatkan ikan. Ikan cude atau kadang ikan hias yang berwarna warni yang tersangkut di kail.| Keraton Kesultanan Ternate |
Setiap minggu pagimualai pukul 6 -8 pagi ada Car Free Day sepanjang jalan dari Lapangan Salero sampai pasar sayur. Ada senam aerobic zumba di depan Lapangan Salero. Dan pedagang makanan dan minuman di tepi jalan. Setelah ikut senam biasanya kami jogging sebentar di CFD 1kali putran bolak balik.
Kalau masih ada waktu kadang kami mampir kepasar sayur untuk memebeli sayuran. Sayuran yang ada di Ternate semuanya di datangkan dari Manado. Karena disini tidak ada kebun sayur. Sawah pun juga tidak ada. Biasanya di Jawa dimana-mana melihat sawah. Tetapi di sini tidak ada sawah.Oleh karena itu di sini tidak ada genteng karena tidak mempunyai tanah liat. Sebagian besar tanaman disini berupa tanaman tahunan seperti pala, cengkeh atau kayu manis. Sayuran yang di jual tampak segar, dan sebagian besar sudah di kupas atau di potong.
Biasanya kalau kita belanja ukurannya gram atau kilo gram. Tetapi di pasar ukuran takarannya pakai cup atau cupa. Dan di pasar banyak di jual ikan cakalang atau tuna asap yang biasa di sebut ikan fufu. Selain itu di dalam pasar sayur juga ada ikan segar yang bermacam-macam, dari ikan yang kecil seperti ikan teri sampai yang sangat besar seperti ikan cakalang yang berukuran besar.
Itulah sebagian kecil tempat- tempat yang pernah aku kunjungi di Ternate masih banyak lagi yang lainnya. Dengan pengalaman dan keunikan yang lain.Serta kenangan yang lain bersama suami. Sampai jumpa di cerita selanjutnya pada artikel yang lain.
| Batu Angus tempat syuting Duka Sedalam Cinta |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar